Tampilkan postingan dengan label Keguruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keguruan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Proposal Kuantitatif

  1. LATAR BELAKANG
Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan mulus. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa individu harus berpisah dari keluarga karena suatu alasan, menjadi yatim, piatu atau yatim-piatu bahkan mungkin menjadi anak terlantar. Kondisi ini menyebabkan adanya ketidak lengkapan di dalam suatu keluarga. Ketidak lengkapan ini pada kenyataanya secara fisik tidak mungkin lagi dapat digantikan tetapi secara psikologis dapat dilakukan dengan diciptakannya situasi kekeluargaan dan hadirnya tokoh-tokoh yang dapat berfungsi sebagai pengganti orang tua .
Menurut Hurlock (1997:213) masa remaja dikatakan sebagai masa transisi karena belum mempunyai pegangan, sementara kepribadianya masih menglami suatu perkembangan, remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisiknya. Remaja masih labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Remaja sebagai bagian dari generasi penerus yang menjadi tonggak sebagai individu yang bermakna pada hari kemudian diharapkan juga memiliki pemahaman tentang diri yang benar, hal tersebut sangat diperlukan bagi setiap orang dalam menjalani kehidupannya, sehingga di peroleh suatu gambaran yang jelas tentang dirinya dan supaya sremaja bias menjalankan apa yang sudah didapatkannya.
Pemahaman akan diri seseorang sangatlah mutlak untuk diketahui. Oleh karena itu semua orang harus mengerti tentang dirinya. Baik secara internal maupun secara eksternal. Ketika seseorang mengetahui kondisi dan gambaran tentang dirinya maka dia akan dapat menjalani hidupnya dengan nyaman dan juga memiliki rasa percaya diri yang kuat karena sudah memiliki pandangan diri yang jelas.
Dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan, semua orang memiliki kemampuan dan keinginan yang berbeda. Salah satu faktor yang membuat seseorang dapat melakukan apa yang dia ingin lakukan adalah ketika dia memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk melakukannya. Ketika seseorang kurang memeiliki rasa percaya diri maka kemungkinan orang tersebut tidak akan dapat bergaul dengan sesama temannya, melakukan apa yang diinginkannya dan pergi sesuai keinginannya.
Remaja yang tinggal di panti asuhan mempunyai rasa rendah diri atau minder terhadap keadaan dirinya, tidak seperti teman-teman dalam kondisi keluarga normal. Hal ini berpengaruh terhadap pergaulan dengan lingkungan. Sementara itu masyarakat atau teman-teman dalam lingkungan sosial sering memberikan label negatif pada anak-anak panti asuhan tanpa melihat lebih jauh, mengapa atau bagaimana berbagai hal negatif ini akan terjadi. Adanya penyimpangan antara harapan dan kenyataan itulah, maka peneliti merasa perlu untuk meneliti hal tersebut.
Berdasarkan dari uraian di atas, maka rumusan masalah yang peneliti ajukan adalah apakah ada hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Oleh karena itu maka penelitian ini berjudul “Hubungan Antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri Pada Remaja Yang Tinggal Di Panti Asuhan”.
  1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan?
2. Mengetahui pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan?
3. Mengetahui tingkat pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan?
  1. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut:
  1. Manfaat teoritis : Dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai pemahaman diri dan rasa percaya diri yang ada pada masa remja .
  2. Manfaat praktis : Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan pendidik, guru,dan orang – orang yang berhubungan dengan panti asuhan dan anak anak asuhnya.
  1. HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis dua arah yaitu Hipotesis alternative dan hipotesis Nol. Hipotesis benar jika Hipotesis alternative (Ha) terbukti kebenarannya.
Ha : adanya hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan
Ho : Tidak ada hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan
  1. KAJIAN PUSTAKA
  1. Pemahaman Diri (Self-Understanding)
    1. Pengertian
Menurut Santrock (2003:333) Pemahaman diri (self – Understanding) adalah gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja. Pemahaman diri menjadi lebih introspektif tetapi tidak bersifat menyeluruh dalam diri remaja, namun lebih merupakan konstruksi kognisi sosialnya. Pada masa remaja persinggungan antara pengalaman sosial, budaya dan norma yang berlaku mempengaruhi pada kognisi sosial remaja.
  1.  
    1. Dimensi – Dimensi Pemahaman Diri
Menurut Santrock (2003:333) Perkembangan dari pemahaman diri masa remaja sangatlah kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri seorang remaja. Beberapa aspek yang ada dalam dimensi –dimensi pemahaman diri ramaja antara lain :
  1. abstrak dan idealistik
pada mas remaja, konstruk berfikir para remaja bersifat abstrak dan idealistik dimana konsep tentang diri seorang remaja itu belum jelas dimana konsep tentang dirinya bersifat lebih baik atau lebih buruk dari keadaan sebenarnya. Tidak semua remaja menggambarkan diri mereka dengan cara yang idealis, namun, sebagian besar remaja membedakan diri mereka yang sebenarnya dengan diri yang diidamkannya.
  1. Terdiferensiasi
pemahaman diri seorang remaja bisa semakin terdeferensiasi. Remaja lebih mungkin dari pada anak kecil untuk menggambarkan dirinya sesuai dengan konteks atau situaasi yang semakin terdeferensiasi. Remaja lebih mungkin dari pada anak – anak untuk memahami bahwa dirinya memiliki diri – diri yang berbeda-beda, tergantung dari peran atau konteks tertentu.
  1. Kontradiksi Dalam Diri
setelah kebutuah untuk mendiferensiasikan diri kedalam banyak peran dalam konteks yang berbeda-beda ada dalam diri remaja, muncullah kontradiksi antara diri – diri yang terdeferensiasi ini.
  1. Fluktuasi Diri
Adanya sifat kontradiktif dalam diri pada masa remaja membuat munculnya fluktuasi diri remaja dalam berbagai situasi dan waktu tidaklah tidak mengejutkan. Ciri remaja di mana seorang remaja memiliki ciri ketidakstabilan hingga tiba suatu saat dimana seorang remaja berhasil membentuk teori mengenai dirinya yang leboh utuh, dan biasanya tidak terjadi hingga masa akhir remajanya atau bahkan diawal masa dewasa.
  1. diri yang nyata dan ideal, diri yang benar dan yang palsu
Muncul kemampuan remaja untuk mengkonstruksikan diri mereka yang ideal disamping diri yang sebenarnya, menjadi suatu yang membingungkan bagi remaja. Kemampuan untuk menyadari adanya perbedaan antara diri yang nyata dengan diri yang ideal menunjukkan adanya peningkatan kemampuan kognitif. Namun menurut Rogers (Santrock, 2003:334), yakin bahwa adanya perbedaan yang terlalu jauh antara diri yang ideal dengan diri yang sebenarnya menunjukkan tanda ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri.
  1. perbandingan sosial
para ahli perkembangan meyakini bahwa remaja, dibandingkan dengan anak-anak, lebih sering menggunakan perbandingan social (social Comparison) untuk mengevakluasi diri mereka sendiri (ruble dalam Santrock, 2003 : 335). Namun kesediaan remaja untuk mengakui bahwa mereka melakukan perbandingan social untuk melakukan evaluasi kepada diri mereka cenderung menurun dimasa remaja karena perbandingan social tidaklah diinginkan. Berpegangan pada informasi perbandingan social pada masa remaja membuat mereka kebingungan karena banyaknya kelompok referensi.
  1. kesadaran diri
remaja lebih sadar akan dirinya (self-conscious) dibandingkan dengan anak-anak dan lebih memikirkan tentang pemahaman dirinya. Remaja lebih introspektif, yang mana hal ini merupakan bagian dari kesadaran diri mereka dan bagian dari eksplorasi diri. Namun, introspeksi tidak hanya terjadi pada remaja dalam keadaan isolasi social. Remaja kadang kadang meminta dukungan dan penjelasan dari teman-temannya, mendapatkan opini dari teman-temannya mengenai definisi diri yang baru muncul.
  1. perlindungan diri
mekanisme untuk mempertahankan diri sendiri (self-deffens) merupakan bagian dari pemahaman diri remaja. Walaupun remaja sering menunjukkan adanya kebingungan dan konflik yang muncul akibat adanya usaha – isaha introspektif untuk memahami dirinya, remaja juga memiliki mekanisme untuk melindungi dan mengembangkan dirinya. Dalam men\lindungi diri, remaja cenderung akan menolak akan adanya karakteristik negative dalam diri mereka. Kecenderungan remaja untuk melindungi dirinya sendiri sesuai dengan deskripsi trdahulu merupakan d\kecenderungan remaja untuk menggambarkan diri mereka dengan cara yang idealistic.
  1. ketidaksadaran
pemahaman diri remaja melibatkan adanya pengenalan bahwa komponen yang tidak disadari (unconscious) termasuk dalam dirinya, dama halnya dengan komponen yang disadari (conscious). Pengenalan semacam itu biasanya tidak muncul sampai pada masa remaja akhir. Maksudnya yang lebih tua biasanya lebih yakin akan adanya aspek – aspek tertentu dari pengalaman mental diri mereka yang berada diluar kesadaran atau control mereka dibandingkan dengan remaja yang lebih mudah.
  1. integrasi diri
pemahaman diri remaja, terutama dimasa remaja akhir, menjadi lebih terintegrasi dimana bagian yang berbeda-beda diri yang secara sistematik menjadi suatu kesatuan. Remaja yang lebih tua mampu mendeteksi adanya ketidak konsistenan dalam deskripsi diri mereka dimasa sebelumnya ketika remaja berusaha untuk mengkonstruksikan teori mengenai diri secara umum, atau suatu pemikiran yang terintegrasi dari identitas.
  1. Percaya Diri (Self-Esteem)
    1. Pengertian
Orang yang dikatakan memiliki kepercayaan diri ialah orang yang merasa puas dengan dirinya (Gael Lindenfield dalam Kamil, 1998: 3). Adapun gambaran merasa puas terhadap dirinya adalah orang yang merasa mengetahui dan mengakui terhadap ketrampilan dan kemampuan yang dimilikinya, serta mampu menunjukkan keberhasilan yang dicapai dalam kehidupan bersosial. Untuk mencari atau menggali definisi yang akurat tentang percaya diri, maka harus menganalisis tentang unsur-unsurnya yang khas. Hal ini dilakukan dengan mendaftarkan sifatsifat dan ketrampilan-ketrampilan hasil pengamatan terhadap orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Menurut Angelis (2000: 10) kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu. Kepercayaan diri itu lahir dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesuatu itu pula yang harus dilakukan. Kepercayaan diri itu akan datang dari kesadaran seorang individu bahwa individu tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun, sampai tujuan yang ia inginkan tercapai.
Menurut Hakim (2005: 6), rasa percaya diri yaitu suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan hidup yang mampu untuk dilakukan, sehingga apa yang direncanakan akan dilakukan dengan keyakinan akan berhasil atau akan mencapai tujuan yang telah ditetapkannya.
Siswa yang memiliki kepercayaan diri akan mampu mengetahui kelebihan yang dimilikinya, karena siswa tersebut menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki, kalau tidak dikembangkan, maka tidak akan ada artinya, akan tetapi kalau kelebihan yang dimilikinya mampu dikembangkan dengan optimal maka akan mendatangkan kepuasan sehingga akan menumbuhkan kepercayaan diri.
Individu yang percaya diri akan memandang kelemahan sebagai hal yang wajar dimiliki oleh setiap individu, karena individu yang percaya diri akan mengubah kelemahan yang dimiliki menjadi motivasi untuk mengembangkan kelebihannya dan tidak akan membiarkan kelemahannya tersebut menjadi penghambat dalam mengaktualisasikan kelebihan yang dimilikinya.
Sebagai contoh, siswa yang selalu menjadi juara kelas mampu menguasai materi pelajaran yang diajarkan di sekolah, sehingga ia merasa yakin dan tidak takut jika disuruh gurunya untuk mengerjakan soal di depan kelas. Bahkan, di dalam setiap mata pelajaran, jika guru bertanya atau meminta seseorang untuk mengerjakan soal di depan kelas, siswa yang menjadi juara kelas dapat mengajukan diri tanpa diperintah.
Sedangkan Luxori (2004: 4), menyatakan bahwa, percaya diri adalah hasil dari percampuran antara pikiran dan perasaan yang melahirkan perasaan rela terhadap diri sendiri. Dengan memiliki kepercayaan diri, seseorang akan selalu merasa baik, rela dengan kondisi dirinya, akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang berkualitas dalam berbagai bidang kehidupan, pekerjaan, kekeluargaan, dan kemasyarakatan, sehingga dengan sendirinya seseorang yang percaya diri akan selalu merasakan bahwa dirinya adalah sosok yang berguna dan memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan bekerja sama dengan masyarakat lainnya dalam berbagai bidang. Rasa percaya diri yang dimiliki seseorang akan mendorongnya untuk menyelesaikan setiap aktivitas dengan baik.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan diri adalah kesadaran individu akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, meyakini adanya rasa percaya dalam dirinya, merasa puas terhadap dirinya baik yang bersifat batiniah maupun jasmaniah, dapat bertindak sesuai dengan kapasitasnya serta mampu mengendalikannya.
  1.  
    1. Ciri-ciri Orang Yang Percaya Diri
Menurut Hakim (2005: 5-6) ciri-ciri orang yang percaya diri antara lain :
  1. Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu;
  2. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai;
  3. Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi;
  4. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi;
  5. Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya;
  6. Memiliki kecerdasan yang cukup;
  7. Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup;
  8. Memiliki keahlian atau keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya ketrampilan berbahasa asing;
  9. Memiliki kemampuan bersosialisasi;
  10. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik;
  11. Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup;
  12. Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar, sabar, dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup.
  1.  
    1. Ciri-ciri Orang Yang Tidak Percaya Diri
Menurut Hakim (2005: 8-9) ciri-ciri orang yang tidak percaya diri antara lain :
  1. Mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat kesulitan tertentu;
  2. Memiliki kelemahan atau kekurangan dari segi mental, fisik, sosial, atau ekonomi;
  3. Sulit menetralisasi timbulnya ketegangan di dalam suatu situasi;
  4. Gugup dan kadang-kadang bicara gagap;
  5. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga kurang baik;
  6. Memiliki perkembangan yang kurang baik sejak masa kecil;
  7. Kurang memiliki kelebihan pada bidang tertentu dan tidak tahu bagaimana cara mengembangkan diri untuk memiliki kelebihan tertentu;
  8. Sering menyendiri dari kelompok yang dianggapnya lebih dari dirinya;
  9. Mudah putus asa;
  10. Cenderung tergantung pada orang lain dalam mengatasi masalah;
  11. Pernah mengalami trauma;
  12. Sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah, misalnya dengan menghindari tanggung jawab atau mengisolasi diri, yang menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk
  1.  
    1. Mengembangkan Kepercayaan Diri
Lindenfield (19: 14) menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan percaya diri diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Cinta
Individu perlu terus merasa dicintai tanpa syarat. Untuk perkembangan harga diri yang sehat dan langgeng, seseorang harus merasa bahwa dirinya dihargai karena keadaannya yang sesungguhnya, bukan yang seharusnya atau seperti yang diinginkan orang lain. Setiap orang hendaknya dicintai tanpa syarat, namun yang terpenting, individu itu sendiri harus dapat mencinti diri tanpa syarat.
Dengan merasa tenteram, percaya diri dan mencintai diri sendiri bila semua keinginan terpenuhi, ini berarti seseorang telah menyayangi diri sendiri secara bersyarat. Agar seseorang dapat menyayangi diri dengan tulus, hendaknya individu dapat menyayangi dirinya sendiri karena telah melakukan sesuatu, bukan karena telah berhasil mencapai sesuatu.
Dalam kegiatan kelompok seperti bimbingan kelompok, bentuk cinta pada diri sendiri dapat ditunjukkan dengan menerima diri apa adanya, tidak menyayangi diri secara bersyarat, memiliki rasa percaya diri dan selalu merasa tenteram. Sedangkan bentuk cinta yang diberikan oleh orang lain dalam kelompok yaitu mau mendengarkan pendapat anggota kelompok, mau memberikan saran dan kritik yang membangun, saling memberi dan menerima bantuan, berempati dengan tulus, anggota kelompok saling memberi motivasi, serta suka rela memecahkan masalah bersama-sama.
  1. Rasa aman
Bila individu merasa aman, mereka secara tidak langsung akan mencoba mengembangkan kemampuan mereka dengan menjawab tantangan serta berani mengambil resiko yang menarik. Di dalam kegiatan bimbingan kelompok, rasa aman ditunjukkan anggota kelompok dengan saling menjaga rahasia, masing-masing anggota mau terbuka, jujur, dan percaya pada diri sendiri maupun orang lain, serta saling menghargai.
  1. Model peran
Mengajar lewat contoh adalah cara paling efektif agar anak mengembangkan sikap dan ketrampilan sosial yang diperlukan untuk percaya diri. Dalam hal ini peran orang lain sangat dibutuhkan untuk dijadikan contoh bagi individu untuk dapat mengembangkan rasa percaya diri.
Di dalam kegiatan koneling kelompok, anggota kelompok dapat menjadikan diri sendiri maupun orang lain sebagai model. Dengan menjadikan orang lain sebagai model, individu dapat menjadikan model itu sebagi contoh/ teladan dan dapat menirunya untuk menumbuhkan rasa percaya diri.
  1. Hubungan
Untuk mengembangkan rasa percaya diri individu terhadap segala hal, individu jelas perlu mengalami dan bereksperimen dengan beraneka hubungan dari yang dekat dan akrab dirumah, teman sebaya maupun yang lebih asing.
Adler (dalam Supratiknya, 1993: 241) menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kegiatan kegiatan kerja sama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri dan mengembangkan gaya hidup yang mengutamakan orientasi sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, dalam menjalani hidup, setiap orang selalu membutuhkan orang lain dan hendaknya dapat bekerja sama dengan orang lain, sehingga dapat saling membantu dan memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang, sehingga akan semakin meningkatkan kepercayaan diri seseorang.
Lindenfield (2004: 15) juga menyatakan bahwa untuk dapat mengembangkan rasa percaya diri, seseorang perlu menjalin hubungan baik dengan siapapun baik orang-orang yang sudah dikenal maupun mampu menjalin hubungan baik dengan orang-orang baru, karena dengan berhubungan dengan orang lain akan menumbuhkan rasa percaya diri.
Hubungan dalam kegiatan kelompok menurut Hakim (2005:132), anggota kelompok akan mendapatkan banyak manfaat antara lain sosialisasi atau pergaulan dengan teman-teman sebaya; mendapatkan tambahan ketrampilan tertentu, seperti kepemimpinan dan cara berhubungan dengan orang lain. Di dalam kelompok seseorang dapat menjalin kerja sama, melakukan penyesuaian dan pendekatan kepada orang lain. Jika seseorang dapat melakukan hubungan dengan baik maka perlahan-lahan seseorang akan memiliki kepercayaan diri.
  1. Kesehatan
Untuk bisa menggunakan sebaik- baiknya kekuatan dan bakat kita, kita butuhkan energi. Jika mereka dalam keadaan sehat, dalam masyarakat bisa dipastikan biasanya mendapatkan lebih banyak perhatian, dorongan moral, dan bahkan kesempatan.
Menurut Hakim (2005: 162), dengan adanya kondisi kesehatan yang lebih prima pada diri seseorang, akan timbul keyakinan dan rasa percaya diri bahwa dalam diri individu memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan banyak hal sesuai dengan keperluan hidupnya, termasuk mengikuti kegiatan kelompok.
  1. Sumber daya
Sumber daya memberikan dorongan yang kuat karena dengan perkembangan kemampuan anak memungkinkan mereka memakai kekuatan tersebut untuk menutupi kelemahan yang mereka miliki.
  1. Dukungan
Individu membutuhkan dorongan dan pembinaan bagaimana menggunakan sumber daya yang mereka miliki. Dukungan jua merupakan factor utama dalam membantu individu sembuh dari pukulan terhadap rasa percaya diri yang disebabkan oleh trauma, luka dan kekecewaan.
Menurut Angelis (2003: 3), rasa percaya diri akan lahir dari kesadaran dirinya sendiri untuk selalu melakukan sesuatu. Jadi kepercayaan diri itu tidak dapat muncul dengan tiba-tiba danmemerlukan proses untuk mendapatkan rasa percaya diri. Penghargaan yang positif atas tindakan yang dilakukan individu akan cenderung meningkatkan kepercayaan diri, begitu juga sebaliknya, apabila penghargaan yang diberikan berupa kritikan yang tidak membangun akan membuat seseorang menjadi rendah diri. Untuk membentuk kepercayaan diri, perananan orang lain di dalam memahami, member dukungan, dan memberikan saran yang dapat digunakan untuk memperbaiki diri sangat dibutuhkan.
Dalam kegiatan kelompok, dukungan dapat ditunjukkan dengan mau mendengarkan pendapat orang lain, dapat saling memotivasi, dan tidak saling menyalahkan. Dengan motivasi dan dukungan, seseorang dapat berkembang menjadi lebih kuat untuk berbuat lebih baik lagi dan penuh percaya diri.
  1. Upah dan hadiah
Upah dan hadiah ini merupakan suatu proses untuk mengembangkan percaya diri agar menyenangkan dari suatu usaha yang telah dilakukan. Hadiah tidak harus berwujud barang. Dalam kegiatan kelompok, hadiah dapat ditunjukan dengan member penghargaan dalam bentuk pujian yang disertai dengan saran-saran yang edukatif, serta anggota kelompok mengusahakan agar seseorang berbuat baik karena kesadarannya bukan karena ingin memperoleh penghargaan.
  1. DEFINISI OPERASIONAL
Pemahaman diri (self – Understanding) adalah gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja dan lebih merupakan konstruksi kognisi sosialnya.
kepercayaan diri adalah kesadaran individu akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, meyakini adanya rasa percaya dalam dirinya, merasa puas terhadap dirinya baik yang bersifat batiniah maupun jasmaniah, dapat
  1. METODE PENELITIAN
  1.  
    1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah beberapa panti asuhan yang berada di Kecamatan Lowokwaru kota Malang yang akan dipilih secara acak yang mewakili dari kota Malang.
  1.  
    1. Rancangan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini diklasifikasikan dala penelitian kuantitatif deskriptif korelatif dimana penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variable yang timbul dimasyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi dan mencari hubungan antar variable yang diteliti. (Bungin,2006:36)
  1.  
    1. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak, peristiwa ataupun gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama (Sukandarrumidi, 2004: 47). Sedangkan menurut Arikunto, populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian (Arikunto, 2002: 108). Jadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak asuh yang tinggal di kecamatan lowokwaru yang berjumlah 1192 orang (dinsos kota malang, 2004).
Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dari obyek yang merupakan sumber data (Sukandarrumidi, 2004: 50).sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 221). Metode penentuan sampel dari populasi yang ada menggunakan rujukan rumus Slovin (Dalam Umar, 2003;146) sebagai berikut
n = N
1+Ne2
n = Ukuran Sampel
N = Ukuran Populasi
e = Prosen Kelonggaran
Prosen kelonggaran atau kesalahan di tentukan sebesar 10%. Jumlah jadi jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 orang.
  1.  
    1. Teknik Pengumpulan Data
  1.  
    1. Observasi
Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi
Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki
  1.  
    1. Dokumentasi
Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya
Lexi J. Moleong (2004) mendefinisikan dokumen sebagai setiap bahan tertulis ataupun film, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan aseorang penyidik.
Penggunaan metode dokumen dalam penelitian ini karena alasan sebagai berikut (Guba dan Lincoln, 1981) dalam bukunya Lexy J. Moleong (2004)
1) Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.
2) Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.
3) Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
4) Tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.
5) Dokumentasi harus dicari dan ditemukan.
6) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
  1.  
    1. Wawancara
Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong, 2000 : 135).
  1.  
    1. Angket
Metode angket adalah salah satu metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan yang berisi aspek yang hendak diukur, yang harus dijawab atau dikerjakan oleh subyek penelitian, berdasarkan atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan mengenai subyek yang diteliti (Suryabrata, 1990).
Penggunaan metode angket, menurut Hadi (1993) didasari oleh beberapa anggapan, yaitu:
1. Subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.
2. Apa yang dinyatakan subyek kepada peneliti adalah benar-benar dapat dipercaya
3. Interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama demngan yang dimakksud peneliti.
Angket memiliki bermacam-,macambentuk yakni:
1. Angket langsung atau tidak langsung
2. Angket terbuka atau angket tertutup
Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat langsung dan tertutup. Artinya angket yang merupakan daftar pertyanyan diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai subyek penelitian, dan dakam mengisi angket, mehasiswa diharuskan memilih karena jawaban telah disediakan.
  1.  
    1. Teknik Analisis Data
Menurut Patton, analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. (Bungin, 2006:33). Karena penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, maka metode analisisi data yang digunakan adalah alat analisis yang bersifat kuantitatif yaitu model statistik. Hasil analisis nantinya akan disajikan dalam bentuk angka-angka yang kemudian dijelaskan dan diiterpretasikan dalam suatu uraian.
Teknik analisa data merupakan langkah yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitian. Adapun teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasi, dimana Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan itu.
Adapun analisa data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tabel dan menggunakan teknik deskriftip prosentase sebagai berikut :
P = F/N x 100
P = Persentase
F = Frekuensi
N = Number of Cases (banyaknya individu)
Dalam penelitian ini juga menggunakan korelasi product moment, adapun rumus yang digunakan adalah korelasi product moment, secara operasional analisa data tersebut dilakukan melalui tahap :
  1. Mencari angka korelasi dengan rumus :
Dengan ketentuan sebagai berikut :
X : Adalah motivasi siswa terhadap bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam
Y : Adalah data prestasi belajar siswa (nilai raport semesterII)
Rxy : Adalah angka indeks korelasi “r” product moment
∑Xy : Jumlah hasil perkalian antara X dan Y
∑X : Jumlah seluruh skor X
∑Y : Jumlah seluruh skor Y
N : Number of Cases
  1. Memberikan Interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” product moment.
  1. Interpretasi kasar atau sederhana, yaitu dengan mencocokkan perhitungan dengan angka indeks korelasi “r” product moment.
Interpretasi menggunakan tabel nilai “r” product moment (rt), dengan terlebih dahulu mencari derajat besarnya (db) atau degress of freedom (df) yang rumusnya adalah : df = N-nr
df : Degrees of Freedom
N : Number of Cases
Nr : Banyaknya variabel (Motivasi Siswa dan Prestasi belajar)
Kemudian dengan melihat Tabel nilai Koefisisen Korelasi “r” Product Moment dari Pearson untuk Berbagai (df).

Check it out !!!

Selasa, 25 Oktober 2011

Perolehan Bahasa Pada Anak Usia 1-3 Tahun

ABSTRAK

Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Selain sebagai medium untuk melakukan tindakan, bahasa juga berfungsi sebagai cerminan budaya penuturnya. Bahasa adalah sumber kehidupan dan kekuatan. Bahasa dapat mengontrol perilaku, merealisasikan tindakan dan mengubah situasi. Bahasa adalah lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan dalam komunikasi dan memungkinkan orang-orang dari latar belakang budaya berbeda dapat berinteraksi. (Oktavianus, 2006:2).
Pemerolehan bahasa pada anak usia 1 – 3 tahun merupakan proses yang bersifat fisik dan psikhis. Secara fisik, kemampuan anak dalam memproduksi kata-kata ditandai oleh perkembangan bibir, lidah, dan gigi mereka yang sedang tumbuh. Pada tahap tertentu pemerolehan bahasa (kemampuan mengucapkan dan memahami arti kata juga tidak lepas dari kemampuan mendengarkan, melihat, dan mengartikan simbol-simbol bunyi dengan kematangan otaknya. Sedangkan secara psikhis, kemampuan memproduksi kata-kata dan variasi ucapan sangat ditentukan oleh situasi emosional anak saat berlatih mengucapkan kata-kata. Anak-anak yang mendapatkan bimbingan dan dorongan moral yang sangat kuat akan memperoleh kata-kata yang banyak dan bervariasi dibandingkan anak-anak lainnya. Makalah ini menguraikan secara singkat dan sederhana proses pemerolehan bahasa tersebut secara pragmatis dan memaparkan beberapa contoh ucapan anak untuk fonem-fonem tertentu yang secara umum mengalami kesulitan dalam pengucapan (ditinjau secara fonologis).
Dari berbagai macam keuniversalan serta proses pemerolehan seperti yang baru saja digambarkan tampak bahwa pemerolehan bahasa seorang anak berkaitan erat dengan keuniversalan bahasa. Bahkan keterkaitan ini lebih menjurus lagi dalam arti bahwa ada elemen-elemen bahasa yang urutan pemerolehannya bersifat universal absolut, ada yang universal statistikal, dan ada pula yang universal implikasional. (Soenjono Dardjowidjojo : 21)

Kata kunci : pemerolehan bahasa, pragmatis, fonologis

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Berkaitan dengan pola pengucapan oleh anak-anak pada umumnya, perlu diperhatikan beberapa persamaan dan perbedaan untuk beberapa vokal dan konsonan tertentu. Pengucapan kata berdasarkan sistem tanda (simbol) ini dipelajari oleh cabang ilmu bahasa yang disebut fonologi. Sebagaimana dijelaskan oleh Kushartanti, ilmu tentang bunyi pada umumnya disebut fonetik; bunyi bahasa diteliti dan diuraikan dalam fonologi atau fonemik. Ilmu atau sistem tentang makna disebut semantik. Leksikon, gramatika, dan fonologi sebagai tiga bagian dari struktur bahasa menyangkut segi makna dan segi bunyi dari bahasa; oleh sebab itu juga mempunyai aspek semantis dan aspek fonetis. Subsistem fonologi atau struktur fonologis mencakup segi-segi bunyi bahasa, baik yang bersangkutan dengan ciri-cirinya (yang diteliti oleh fonetik), maupun yang bersangkutan dengan fungsinya dalam komunikasi (Kushartanti, 2005:7).
Kemampuan berbahasa anak ditentukan oleh masa pertumbuhan yang sangat potensial yakni dalam kisaran usia 0 sampai dengan 11 tahun (catatan kuliah Prof. Kunardi, dalam mata kuliah Pemerolehan Bahasa). Hal ini belum banyak dipahami oleh para orang tua, sehingga belum banyak orang tua yang memberikan perlakuan khusus kepada anak-anaknya dalam hal belajar bahasa. Kekurangpahaman orang tua tentang waktu efektif mempelajari bahasa ini, menyebabkan beberapa keterlambatan pemerolehan bahasa anak dibandingkan sebayanya. Pada pengucapan fonem tertentu, anak mengalami kesulitan, meskipun pada akhirnya mereka akan mampu mengucapkan fonem yang dimaksud.
Secara praktis, timbul kendala awal dalam pengucapan kata-kata tertentu, misal pengucapan fonem r (getar), yang bahkan pada kasus tertentu, sampai tua pun ada orang yang mengalami kesulitan mengucapkan fonem tersebut. Mestinya hal tersebut tidak perlu terjadi jika orang tua secara sadar dan kontinyu melatihkan pengucapan fonem getar kepada anak-anak mereka pada usia dini. Sedangkan secara teoretis, pemahaman makna kata oleh anak sangat dipengaruhi kemampuan memori dalam otaknya yang masih jernih dan belum terkontaminasi oleh permasalahan-permasalahan lain dalam kehidupannya. Sebagaimana dijelaskan, ada keterkaitan yang erat antara perkembangan bahasa seorang anak dengan pertumbuhan neurologi maupun biologinya. (Soenjono Dardjowidjojo : 4)
Sebuah penelitian menggambarkan bahwa pada usia 0 – 11 tahun, kemampuan anak untuk menyerap (mengucapkan dan memahami makna kata) sangat luar biasa, sedangkan masa sesudah itu, perkembangan kemampuan kembali ke irama dan tempo yang normal (tidak terlalu cepat).
Makalah ini mencoba mencirikan pemerolehan bahasa anak secara dini dengan maksud agar pembaca (khususnya orang tua anak) memiliki pengetahuan awal dalam membantu anak-anak mereka mendapatkan kemampuan secara optimal. Secara khusus makalah ini juga menandai berbagai ucapan yang dikaitkan dengan kemampuan alat ucap anak, terutama kata-kata yang mengandung fonem l, r, w, dan y.

2. Rumusan Masalah
Oleh karena keterbatasan kesempatan melakukan penelitian secara terstruktur, pada makalah ini hanya dirumuskan beberapa masalah berdasarkan pengalaman langsung penulis ketika melihat pertumbuhan kebahasaan anak di sekitar penulis. Rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.
a. Adakah kesamaan kemampuan anak dalam mengucapkan kata-kata tertentu?
b. Siapa yang paling berperan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak?
c. Bagaimana upaya terbaik dalam mengembangkan kemampuan awal kebahasaan anak ini?
d. Mengapa kemampuan kebahasaan anak ini perlu dipersiapkan secara dini?

3. Tujuan
Tulisan ini bermaksud menelaah secara kasuistis ucapan-ucapan anak pada usia 1 – 3 tahun dan dikaitkan dengan permasalahan pemerolehan bahasa anak secara keseluruhan. Dengan demikian tulisan sederhana ini memberikan orientasi kepada pembaca, khususnya para orang tua yang sedang mengembangkan kebahasaan anak pada usia dini (balita).

4. Manfaat
Tulisan ini diharapkan memberikan sumbangsih yang berarti bagi pembaca khususnya para orang tua, yang karena kesibukan dan tugas kesehariannya harus menyerahkan pengasuhan anaknya kepada baby sitter. Bagi penulis dan dunia pendidikan tulisan ini diharapkan menjadi wacana untuk dikaji demi kemajuan perkembangan bahasa pada waktu mendatang.

5. Landasan Teori.
a. Komponen bahasa
Komponen bahasa meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan pragmatik. Karenanya kemampuan berbahasa anak juga berkait erat dengan kelima komponen tersebut. Pengetahuan bahasa, atau pengetauan apa pun tidak dapat diproleh secara nativistik (kodrati) atau berdasarkan empirikal atau lingkungan saja (Soenjono Dardjowidjojo : 10).

b. Keuniversalan dan Pemerolehan Bunyi
Dalam kaitan antara konsep universal dengan pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan fonologis, Jakobson dan Clark and Clark (dalam Soenjono Dardjowidjojo : 21), mengemukakan adanya keuniversalan dalam bunyi-bunyi pada bahasa itu sendiri serta urutan pemerolehannya.

c. Pengembangan Potensi
Potensi anak perlu dikembangkan seoptimal mungkin, agar mereka dapat memperoleh kehidupan yang baik. Sebagaimana diungkapkan Utami Munandar (2003 : 21), manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa telah dilengkapi dengan berbagai potensi dan kemampuan. Potensi itu pada dasarnya merupakan anugerah kepada manusia yang semestinya dimanfaatkan dan dikembangkan, serta jangan disia-siakan. Peserta didik (anak) yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa (termasuk bahasa), sebagaimana anak pada umumnya, juga mempunyai kebutuhan pokok dan keberadaannya (eksistensinya). Apabila kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi, mereka akan menderita kecemasan dan keragu-raguan. Jika potensi mereka tidak dimanfaatkan, mereka walaupun potensial akan mengalami kesulitan.

B. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah kajian pustaka atau study literer, dengan mendasarkan pengembangan wacana beradasarkan pengamatan langsung terhadap objek dan berdasarkan pencatatan proses pemerolehan bahasa anak pada usia tertentu (1 sampai 3 tahun).
.
C. Hasil Pengkajian dan Pembahasan
1. Hasil pengumpulan data
Beberapa ucapan anak pada saat mereka di bawah 3 tahun berikut, bisa dianalisis berdasarkan perkembangan fisik dan psikis penuturnya. Sebagaimana terurai pada tabel berikut.
1
Eki Febrian
23-Jan-04
lampu
lucu
alis
2
Fitria
21-Nov-04
lampu
lutu
alis
3
Fadhilah Dzikri Arian
16-Dec-04
lapu
lucu
alis
4
Natalia Cintya Putri Raharjo
29-May-05
ampu
lucu
alis
5
Alena Nathania
4-Mar-05
lampu
lucu
alis

1
Eki Febrian
23-Jan-04
guling
mobil
bantal
2
Fitria
21-Nov-04
guling
mobil
bantal
3
Fadhilah Dzikri Arian
16-Dec-04
guling
mobil
bantal
4
Natalia Cintya Putri Raharjo
29-May-05
guling
mobil
bantal
5
Alena Nathania
4-Mar-05
guling
mobi
banta

1
Eki Febrian
23-Jan-04
loti
lambut
pelmen
2
Fitria
21-Nov-04
roti
rambut
remen
3
Fadhilah Dzikri Arian
16-Dec-04
loti
lambut
pemen
4
Natalia Cintya Putri Raharjo
29-May-05
oti
ambut
emen
5
Alena Nathania
4-Mar-05
toti
tambut
pemen

1
Eki Febrian
23-Jan-04
jeluk
anggul
segal
2
Fitria
21-Nov-04
jorok
anggur
segar
3
Fadhilah Dzikri Arian
16-Dec-04
jeluk
anggul
segal
4
Natalia Cintya Putri Raharjo
29-May-05
jeuk
anggung
segal
5
Alena Nathania
4-Mar-05
juluk
anggu
cega
1
Eki Febrian
23-Jan-04
waduk
wajib
awan
2
Fitria
21-Nov-04
waduk
wajib
awan
3
Fadhilah Dzikri Arian
16-Dec-04
waduk
wajib
awan
4
Natalia Cintya Putri Raharjo
29-May-05
waduk
wajib
awan
5
Alena Nathania
4-Mar-05
waduk
wajib
awan

1
Eki Febrian
23-Jan-04
iwak
yakin
yahut
2
Fitria
21-Nov-04
iwak
yakin
yaut
3
Fadhilah Dzikri Arian
16-Dec-04
iwak
yakin
yahut
4
Natalia Cintya Putri Raharjo
29-May-05
iwak
yakin
yahut
5
Alena Nathania
4-Mar-05
iwak
yakin
yahut

1
Eki Febrian
23-Jan-04
bayam
kayu

2
Fitria
21-Nov-04
bayam
kayu

3
Fadhilah Dzikri Arian
16-Dec-04
bayam
kayu

4
Natalia Cintya Putri Raharjo
29-May-05
bayam
kayu

5
Alena Nathania
4-Mar-05
bayam
kayu







2. Pembahasan
Karena pemerolehan bahasa menyangkut berbagai aspek perkembangan, maka pandangan dati banyak ahli dalam berbagai bidang yang relevan seperti linguistik umum, psikologi, neurologi, biologi, dan pemerolehan bahasa akan dimanfaatkan. Perkembangan pemerolehan bahasa oleh Ingram (dalam Kushartanti. 2005 : 23) dibagi menjadi tiga periode yaitu : (a) periode buku harian; (b) periode sample besar; (c) periode kajian longitudinal. Menurut H. Taine pada tahun 1876 dalam penelitiannya menggunakan metode buku harian orang tua. Dalam metode ini orang tua membuat buku harian yang isinya merupakan catatan perkembangan bahasa anak yang sering disebut “biografi bayi” (baby biography). Kemudian disusul dengan karya yang lain misalnya karya Preyer 1889. Clara dan Wilhelm Stern 1907. pada tahun 30-an muncul pelopor John B. Watson yang menerbitkan buku Behaviorism yang memiliki ciri-ciri (dalam Kushartanti : 2005 : 11).
Ciri pertama menonjolkan peran lingkungan dalam pemerolehan pengetahuan, termasuk pemerolehan bahasa. Manusia hayalah sebagai tempat kosong yang isinya akan ditentukan oleh alam sekitarnya. Ciri yang kedua, perubahan perilaku anak ditelusuri melalui peristiwa yang kasad mata yang ada di lingkungannya yang sering dimunculkan dalam eksperimen. Ciri yang ketiga, hasil eksperimen dinyatakan dalam system pengukuran yang sifatnya kuantitatif. Ciri yang keempat peniruan dan asosiasi merupakan wahana yang paling ampuh dalam pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa dicapai dengan menumbuhkan seperangkat kebiasaan dan kebiasaan hanya diperoleh melalui latihan peniruan, asosiasi, dan penekanan (reinforcement).
Pandangan yang nativistik berlandaskan kenyataan bahwa seorang anak dapat memperoleh bahasa mana pun kalau saja ia diberi peluang. Anak memiliki bekal kodrati yang memungkinkan dia dapat memperoleh bahasa apa saja yang disuguhkan kepadanya. Argumentasi Chomsky yang mendukung bekal kodrati. Pertama, pemerolehan bahasa adalah suatu species-spesific human capacity hanya manusialah yang dapat memperoleh bahasa. Ini berarti bahwa dalam benak (mind) manusia ada prinsipel-prinsipel restriktif yang menentukan nature bahasa manusia. Kedua, pemerolehan bahasa sama sekali tidak tergantung pada intelegensi manusia. Betapa pun rendahnya intelegensi manusia (kecuali kalau ada cacat tertentu), dia tetap saja akan dapat berbahasa. Ketiga, pemerolehan bahasa anak di dunia terjadi dalam kondisi yang berbeda-beda namun memiliki strategi yang sama. Keempat, masukan yang diterima anak memang rancu, tetapi anak dapat memilah-milah dan kemudian membuat hipotesis sendiri sehingga akhirnya terbentuklah wujud bahasa yang diterima oleh masyarakat dewasa di sekitarnya.

3. Pemerolehan Fonologi Umur Satu sampai Tiga Tahun.
Perkembangan kabahasaan anak berjalan sesuai dengan jadwal biologisnya. Pernyataan ini perlu dipahami benar karena banyak orang mengaitkan dengan jumlah umur. Pernyataan Lenneberg mengenai hal ini diarahkan pada perkembangan motorik anak, dan pada jumlah tahun dan bulan anak tersebut. Hal ini menyebabkan mengapa ada anak yang berumur tertentu sudah dapat berbicara sedangkan anak yang lain dengan umur yang sama belum.
Dalam pemerolehan bahasa, masukan merupakan faktor yang sangat penting dan sangat menentukan. Manusia tidak akan dapat menguasai bahasa, apabila tidak ada masukan kebahasaan padanya. Selaras dengan bertambahnya kemampuan ujaran kemampuan komprehensifnya pun mulai berjalan cepat, dan mampu menangkap apa yang diucapkan orang dewasa, serta mampu membedakan bahwa sesuatu adalah berbeda dari sesuatu yang lain. Misal ditunjukkan gambar kucing dan orang lain mengatakan ikan, anak akan berkata [ utan ] yang artinya “bukan”. Lingkungan dan orang tua akan menentukan pemerolehan bahasa anak yang berkaitan dengan unsur kesantunan berbicara anak.
Pada umur anak mencapai dua tahun pada umunya telah menguasai semua fonem vokal bahasa Indonesia. Variasi alofonik sudah mulai terdengar, kecuali untuk vokal [o] yang sebenarnya merupakan wujud dari diftong [au] seperti pada kata kerbau dan pisau.
Fonem-fonem yang telah dikuasai anak umur dua sampai tiga tahun ditinjau dari segi fonologi menunjukkan beberapa hal yang menarik. Perkembangan vokal mereka tampak mengikuti teori universal seperti yang dinyatakan oleh Jakobson, meskipun tidak sepenuhnya. Berarti anak usia dua sampai tiga tahun baru mengenal vokal [a], [i], dan [u] kemudian sesuai dengan perkembangannya menyusul vokal-vokal yang lain.
Untuk bagian konsonan, urutan universal yang dianut anak pada umumya berlaku pula pada anak-anak yang berada di daerah yang diteliti penulis. Misalnya pada konsonan bilabial dan alveolar telah muncul secara teratur dengan konsonan ringan [p] dan [t] muncul lebh dahulu.
Konsonan velar [k] dan [g] sama sekali belum terdengar, kecuali [k] pada akhir kata, yang menyerupai bunyi glotal. Pada awal atau tengah kata, kedua bunyi ini diganti dengan bunyi hambat yang lain atau dihilangkan. Pada akhir kata hanya [?] yang sudah muncul.
Munculnya bunyi frikatif [s], dan belum munculnya bunyi frikatif [s] adalah bahwa bunyi ini baru kedengaran bila berada pada akhir kata, misalnya [abis]. Bila pada awal kata, bunyi frikatif ini belum muncul : [ama] “sama”, [ini] “sini”, [akit] “sakit” dan sebagainya. Bunyi frikatif global [h] juga muncul pada akhir kata [nih] “nih”, [tuh] “tuh”, [udah] “sudah”. Pada awal kata bunyi ini tidak kedengaran : [abis] “habis”, [antu] “hantu”. Bunyi frikatif lain, [f], [v], [z], [s], dan [x] sama sekali belum pernah muncul.
Konsonan nasal yang dikuasai adalah [m] dan [n], baik dalam posisi awal, tengah ataupun akhir kata. Melalui perkembangannya bunyi nasal velar [ŋ] juga sudah muncul tetapi masih terbatas pada akhir suku kata. Bunyi nasal palatal [ñ] belum muncul dan diganti dengan bunyi [n].
Pada umumnya gugus konsonan belum muncul sampai unsur sekitar tiga tahun. Walaupun ada gugus konsonan namun masih terbatas pada satu kata, misalnya [mb] pada kata [mbak] dan [nd] pada kata [ndak]. Begitu juga gugus vokal juga belum tampak sehingga kata-kata untuk “kerbau” dan “pisau” diucapkan sebagai “ebo” dan “pitso”.
Dari data di atas tampak bahwa likuid yang berupa [l] muncul tidak lama setelah bunyi hambat ringan. Mungkin sekali munculnya bunyi likuid lateral ini karena kendala atau tekanan semantik yang memerlukan adanya bunyi yang dekat dengan bunyi [r] yang jauh lebih sukar pengujarannya. Bahwa derajat kesukaran fonologis itu memegang peran sudah banyak dinyatakan banyak orang. Elsen (dalam Soenjono, 2000 : 96) menyatakan bahwa perluasan makna dapat pula dipengaruhi oleh kesukaran fonologis ; Levelt menunjukkan bahwa struktur segmental kata juga bisa merupakan kendala ; demikian pula Geirut dkk. (dalam Soenjono, 2000 : 96). Menunjukkan bahwa pemunculan suatu bunyi dapat pula dipengaruhi oleh kendala leksikal.
Untuk kata duduk, enak, dan cantik dapat diucapkan dengan [k] final, tetapi pada kata kecil, kasih, bukan, dan ikan masih diucapkan [etil], [tatsih], [butan], dan [itan].
Pemerolehan bahasa anak umur dua sampai tiga tahun melalui perkembangan fonologi didapatkan rumusan sebagai berikut :
ü sudah diperoleh semua posisi vokal dan konsonan[i e ε u o э a d]
ü Diperoleh tapi baru pada posisi akhir suku kata [k s ŋ ]
ü Belum diperoleh [g f ś z ĉ ĵ ñ r x ]
a. Adakah kesamaan kemampuan anak dalam mengucapkan kata-kata tertentu?
Secara umum ada ucapan-ucapan anak yang menunjukkan kesamaan, misalnya maem, mimik, papa, mama, dan lain-lain. Tetapi secara khusus ada ucapan anak yang unik (tidak seperti anak lainnya), sebagaimana terpapar dalam tabel di atas.
b. Siapa yang paling berperan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak?
Dalam hal ini ibu dianggap paling menentukan perolehan dan kecakapan bahasa seorang anak. Karena pada hakekatnya anak cenderung meniru dan mengikuti jejak orang tuanya (termasuk bahasa), maka dianjurkan untuk tidak menyebut nama benda dengan ucapan yang cadel (cedal, gagap).
c. Bagaimana upaya terbaik dalam mengembangkan kemampuan awal kebahasaan anak ini?
Upaya yang dilakukan yaitu dengan melatih vokal, yang paling dipahami oleh anak , sebagai contoh fonem A. Selanjutnya anak perlu diberi kesempatan berbicara di hadapan orang tuanya, tidak lain agar anak memiliki keberanian mengeluarkan.
d. Mengapa kemampuan kebahasaan anak ini perlu dipersiapkan secara dini?
Kemampuan kebahasaan anak perlu dipersiapkan dengan seksama, karena sesuai penjelasan di atas bahwa potensi kebahasaan anak dapat dikembangkan dalam usia 0 – 11 tahun.

D. Simpulan
Setelah diuraikan sebagaimana bagian-bagian terdahulu, dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
1. Ada kesamaan kemampuan anak dalam mengucapkan kata-kata tertentu.Secara umum ada ucapan-ucapan anak yang menunjukkan kesamaan, misalnya maem, mimik, papa, mama, dan lain-lain. Tetapi secara khusus ada ucapan anak yang unik (tidak seperti anak lainnya), sebagaimana terpapar dalam tabel di atas.
2. Yang paling berperan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak adalah ibu. Dalam hal ini ibu dianggap paling menentukan perolehan dan kecakapan bahasa seorang anak. Karena pada hakekatnya anak cenderung meniru dan mengikuti jejak orang tuanya (termasuk bahasa), maka dianjurkan untuk tidak menyebut nama benda dengan ucapan yang cadel (cedal, gagap).
3. Upaya terbaik dalam mengembangkan kemampuan awal kebahasaan anak yaitu dengan melatih vokal, yang paling dipahami oleh anak , sebagai contoh fonem A. Selanjutnya anak perlu diberi kesempatan berbicara di hadapan orang tuanya, tidak lain agar anak memiliki keberanian mengeluarkan.
4. Kemampuan kebahasaan anak ini perlu dipersiapkan secara dini karena sesuai penjelasan pada awal makalah ini, potensi kebahasaan anak dapat dikembangkan dalam usia 0 – 11 tahun.





Daftar Pustaka

Depdiknas, 2003. Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar SD, SMP, dan SMA. Jakarta: Depdiknas.

Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder, 2005. Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Oktavianus, 2006. Analisis Wacana Lintas Bahasa, Yogyakarta: Andalas University Press.

Salomo Simanungkalit, 2006. 111 Kolom Bahasa Kompas. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Samsunuwiyati Mar’at, 2005. Psikolinguistik, Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.

Soenjono Dardjowidjojo, 2000. ECHA, Kisah Perolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo.
Check it out !!!

Perolehan Bahasa Pada Anak

1. Proses Pemerolehan Bahasa Pertama

Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).


Selama pemerolehan bahasa pertama, Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) secara tidak disadari. Kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performansi dalam berbahasa. Performansi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performansi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar, sedangkan proses penerbitan melibatkan kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat sendiri (Chaer 2003:167).


Selanjutnya, Chomsky juga beranggapan bahwa pemakai bahasa mengerti struktur dari bahasanya yang membuat dia dapat mengkreasi kalimat-kalimat baru yang tidak terhitung jumlahnya dan membuat dia mengerti kalimat-kalimat tersebut. Jadi, kompetensi adalah pengetahuan intuitif yang dipunyai seorang individu mengenai bahasa ibunya (native languange). Intuisi linguistik ini tidak begitu saja ada, tetapi dikembangkan pada anak sejalan dengan pertumbuhannya, sedangkan performansi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh kompetensi.


Hal yang patut dipertanyakan adalah bagaimana strategi si anak dalam memperoleh bahasa pertamanya dan apakah setiap anak memiliki strategi yang sama dalam memperoleh bahsa pertamanya? Berkaitan dengan hal ini, Dardjowidjojo, (2005:243-244) menyebutkan bahwa pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak di mana pun juga memperoleh bahasa pertamanya dengan memakai strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama, tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan bekal kodrati pada saat dilahirkan. Di samping itu, dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini. Chomsky mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhnya telah dipasang tombol serta kabel listrik: mana yang dipencet, itulah yang akan menyebabkan bola lampu tertentu menyala. Jadi, bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input sekitarnya.



2. Tahap-tahap Pemerolehan Bahasa Pertama

Perlu untuk diketahui adalah seorang anak tidak dengan tiba-tiba memiliki tata bahasa B1 dalam otaknya dan lengkap dengan semua kaidahnya. B1 diperolehnya dalam beberapa tahap dan setiap tahap berikutnya lebih mendekati tata bahasa dari bahasa orang dewasa. Menurut para ahli, tahap-tahap ini sedikit banyaknya ada ciri kesemestaan dalam berbagai bahasa di dunia.


Pengetahuan mengenai pemerolehan bahasa dan tahapnya yang paling pertama di dapat dari buku-buku harian yang disimpan oleh orang tua yang juga peneliti ilmu psikolinguistik. Dalam studi-studi yang lebih mutakhir, pengetahuan ini diperoleh melalui rekaman-rekaman dalam pita rekaman, rekaman video, dan eksperimen-eksperimen yang direncanakan. Ada sementara ahli bahasa yang membagi tahap pemerolehan bahasa ke dalam tahap pralinguistik dan linguistik. Akan tetapi, pendirian ini disanggah oleh banyak orang yang berkata bahwa tahap pralinguistik itu tidak dapat dianggap bahasa yang permulaan karena bunyi-bunyi seperti tangisan dan rengekan dikendalikan oleh rangsangan (stimulus) semata-mata, yaitu respons otomatis anak pada rangsangan lapar, sakit, keinginan untuk digendong, dan perasaan senang. Oleh karena itu, tahap-tahap pemerolehan bahasa yang dibahas dalam makalah ini adalah tahap linguistik yang terdiri atas beberapa tahap, yaitu (1) tahap pengocehan (babbling); (2) tahap satu kata (holofrastis); (3) tahap dua kata; (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).


2.1 Vokalisasi Bunyi

Pada umur sekitar 6 minggu, bayi mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan, dekur. Bunyi yang dikeluarkan oleh bayi mirip dengan bunyi konsonan atau vokal. Akan tetapi, bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena memang belum terdengar dengan jelas. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah bunyi-bunyi yang dihasilkan tadi merupakan bahasa? Fromkin dan Rodman (1993:395) menyebutkan bahwa bunyi tersebut tidak dapat dianggap sebagai bahasa. Sebagian ahli menyebutkan bahwa bunyi yang dihasilkan oleh bayi ini adalah bunyi-bunyi prabahasa/dekur/vokalisasi bahasa/tahap cooing.

Setelah tahap vokalisasi, bayi mulai mengoceh (babling). Celoteh merupakan ujaran yang memiliki suku kata tunggal seperti mu dan da. Adapun umur si bayi mengoceh tak dapat ditentukan dengan pasti. Mar’at (2005:43) menyebutkan bahwa tahap ocehan ini terjadi pada usia antara 5 dan 6 bulan. Dardjowidjojo (2005: 244) menyebutkan bahwa tahap celoteh terjadi sekitar umur 6 bulan. Tidak hanya itu. ada juga sebagian ahli menyebutkan bahwa celoteh terjadi pada umur 8 sampai dengan 10 bulan. Perbedaan pendapat seperti ini dapat saja. Yang perlu diingat bahwa kemampuan anak berceloteh tergantung pada perkembangan neurologi seorang anak.

Pada tahap celoteh ini, anak sudah menghasilkan vokal dan konsonan yang berbeda seperti frikatif dan nasal. Mereka juga mulai mencampur konsonan dengan vokal. Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti dengan vokal. Konsonan yang keluar pertama adalah konsonan bilabial hambat dan bilabial nasal. Vokalnya adalah /a/. dengan demikian, strukturnya adalah K-V. Ciri lain dari celotehan adalah pada usia sekitar 8 bulan, stuktur silabel K-V ini kemudian diulang sehingga muncullah struktur seperti:


K1 V1 K1 V1 K1 V1…papapa mamama bababa…


Orang tua mengaitkan kata papa dengan ayah dan mama dengan ibu meskipun apa yang ada di benak tidaklah kita ketahui. Tidak mustahil celotehan itu hanyalah sekedar artikulatori belaka (Djardjowidjojo, 2005:245).

Begitu anak melewati periode mengoceh, mereka mulai menguasai segmen-segmen fonetik yang merupakan balok bangunan yang dipergunakan untuk mengucapkan perkataan. Mereka belajar bagaimana mengucapkan sequence of segmen, yaitu silabe-silabe dan kata-kata. Cara anak-anak mencoba menguasai segmen fonetik ini adalah dengan menggunakan teori hypothesis-testing (Clark & Clark dalam Mar’at 2005:43). Menurut teori ini anak-anak menguji coba berbagai hipotesis tentang bagaimana mencoba memproduksi bunyi yang benar.

Pada tahap-tahap permulaan pemerolehan bahasa, biasanya anak-anak memproduksi perkataan orang dewasa yang disederhanakan sebagai berikut:

(1) menghilangkan konsonan akhir


blumen bu


boot bu

(2) mengurangi kelompok konsonan menjadi segmen tunggal:


batre bate


bring bin

(3) menghilangkan silabel yang tidak diberi tekanan


kunci ti


semut emut

(4) reduplikasi silabel yang sederhana


pergi gigi


nakal kakal

Menurut beberapa hipotesis, penyederhanaan ini disebabkan oleh memory span yang terbatas, kemampuan representasi yang terbatas, kepandaian artikulasi yang terbatas (Mar’at 2005:46-47).

Apakah tahap celoteh ini penting bagi si anak. Jawabannya tentu saja penting. Tahap celoteh ini penting artinya karena anak mulai belajar menggunakan bunyi-bunyi ujaran yang benar dan membuang bunyi ujaran yang salah. Dalam tahap ini anak mulai menirukan pola-pola intonasi kalimat yang diucapkan oleh orang dewasa.


2.2 Tahap Satu-Kata atau Holofrastis

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia antara 12 dan 18 bulan. Ujaran-ujaran yang mengandung kata-kata tunggal diucapkan anak untuk mengacu pada benda-benda yang dijumpai sehari-hari. Pada tahap ini pula seorang anak mulai menggunakan serangkaian bunyi berulang-ulang untuk makna yang sama. pada usia ini pula, sang anak sudah mengerti bahwa bunyi ujar berkaitan dengan makna dan mulai mengucapkan kata-kata yang pertama. Itulah sebabnya tahap ini disebut tahap satu kata satu frase atau kalimat, yang berarti bahwa satu kata yang diucapkan anak itu merupakan satu konsep yang lengkap, misalnya “mam” (Saya minta makan); “pa” (Saya mau papa ada di sini), “Ma” (Saya mau mama ada di sini).

Mula-mula, kata-kata itu diucapkan anak itu kalau rangsangan ada di situ, tetapi sesudah lebih dari satu tahun, “pa” berarti juga “Di mana papa?” dan “Ma” dapat juga berarti “Gambar seorang wanita di majalah itu adalah mama”.

Menurut pendapat beberapa peneliti bahasa anak, kata-kata dalam tahap ini mempunyai tiga fungsi, yaitu kata-kata itu dihubungkan dengan perilaku anak itu sendiri atau suatu keinginan untuk suatu perilaku, untuk mengungkapkan suatu perasaan, untuk memberi nama kepada suatu benda. Dalam bentuknya, kata-kata yang diucapkan itu terdiri dari konsonan-konsonan yang mudah dilafalkan seperti m,p,s,k dan vokal-vokal seperti a,i,u,e.


2.3 Tahap Dua-Kata, Satu Frase

Tahap ini berlangsung ketika anak berusia 18-20 bulan. Ujaran-ujaran yang terdiri atas dua kata mulai muncul seperti mama mam dan papa ikut. Kalau pada tahap holofrastis ujaran yang diucapkan si anak belum tentu dapat ditentukan makna, pada tahap dua kata ini, ujaran si anak harus ditafsirkan sesuai dengan konteksnya. Pada tahap ini pula anak sudah mulai berpikir secara “subjek + predikat” meskipun hubungan-hubungan seperti infleksi, kata ganti orang dan jamak belum dapat digunakan. Dalam pikiran anak itu, subjek + predikat dapat terdiri atas kata benda + kata benda, seperti “Ani mainan” yang berarti “Ani sedang bermain dengan mainan” atau kata sifat + kata benda, seperti “kotor patu” yang artinya “Sepatu ini kotor” dan sebagainya.


2.4 Ujaran Telegrafis

Pada usia 2 dan 3 tahun, anak mulai menghasilkan ujaran kata-ganda (multiple-word utterances) atau disebut juga ujaran telegrafis. Anak juga sudah mampu membentuk kalimat dan mengurutkan bentuk-bentuk itu dengan benar. Kosakata anak berkembang dengan pesat mencapai beratus-ratus kata dan cara pengucapan kata-kata semakin mirip dengan bahasa orang dewasa. Contoh dalam tahap ini diberikan oleh Fromkin dan Rodman.

“Cat stand up table” (Kucing berdiri di atas meja);

“What that?” (Apa itu?);

“He play little tune” (dia memainkan lagu pendek);

“Andrew want that” (Saya, yang bernama Andrew, menginginkan itu);

“No sit here” (Jangan duduk di sini!)

Pada usia dini dan seterusnya, seorang anak belajar B1-nya secara bertahap dengan caranya sendiri. Ada teori yang mengatakan bahwa seorang anak dari usia dini belajar bahasa dengan cara menirukan. Namun, Fromkin dan Rodman (1993:403) menyebutkan hasil peniruan yang dilakukan oleh si anak tidak akan sama seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Jika orang dewasa meminta sang anak untuk menyebutkan “He’s going out”, si anak akan melafalkan dengan “He go out”. Ada lagi teori yang mengatakan bahwa seorang anak belajar dengan cara penguatan (reinforcement), artinya kalau seorang anak belajar ujaran-ujaran yang benar, ia mendapat penguatan dalam bentuk pujian, misalnya bagus, pandai, dsb. Akan tetapi, jika ujaran-ujarannya salah, ia mendapat “penguatan negatif”, misalnya lagi, salah, tidak baik. Pandangan ini berasumsi bahwa anak itu harus terus menerus diperbaiki bahasanya kalau salah dan dipuji jika ujarannya itu benar.

Teori ini tampaknya belum dapat diterima seratus persen oleh para ahli psikologi dan ahli psikolinguistik. Yang benar ialah seorang anak membentuk aturan-aturan dan menyusun tata bahasa sendiri. Tidak semua anak menunjukkan kemajuan-kemajuan yang sama meskipun semuanya menunjukkan kemajuan-kemajuan yang reguler.

Selain tahap pemerolehan bahasa yang disebutkan di atas, ada juga para ahli bahasa seperti Aitchison mengemukakan beberapa tahap pemerolehan bahasa anak.


Tahap 1: Mendengkur

Tahap ini mulai berlangsung pada anak usia sekitar enam minggu. Bunyi yang dihasilkan mirip dengan vokal tetapi tidak sama dengan bunyi vokal orang dewasa.


Tahap 2: Meraban

Tahap ini berlangsung ketika usia anak mendekati enam bulan. Tahap meraban merupakan pelatihan bagi alat-alat ucap. Vokal dan konsonan dihasilkan secara serentak.


Tahap 3: Pola intonasi

Anak mulai menirukan pola-pola intonasi. Tuturan yang dihasilkan mirip dengan yang diucapkan ibunya.


Tahap 4: Tuturan satu kata

Pada umur satu tahun sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan tuturan satu kata. Pada usia ini anak memperoleh sekitar lima belas kata meliputi nama orang, binatang, dan lain-lain.


Tahap 5: Tuturan dua kata

Umumnya pada usia dua setengah tahun anak sudah menguasai beberapa ratus kata. Tuturan hanya terdiri atas dua kata.


Tahap 6: Infleksi kata

Kata-kata yang dianggap remeh dan infleksi mulai digunakan. Dalam bahasa Indonesia yang tidak mengenal istilah infleksi, mungkin berwujud pemerolehan bentuk-bentuk derivasi, misalnya kata kerja yang mengandung awalan atau akhiran.


Tahap 7: Bentuk Tanya dan bentuk ingkar

Anak mulai memperoleh kalimat tanya dengan kata tanya seperti apa, siapa, kapan, dan sebagainya. Di samping itu anak juga sudah mengenal bentuk ingkar.


Tahap 8: Konstruksi yang jarang atau kompleks

Anak sudah mulai berusaha menafsirkan meskipun penafsirannya dilakukan secara keliru. Anak juga memperoleh kalimat dengan struktur yang rumit, seperti pemerolehan kalimat majemuk.


Tahap 9: Tuturan yang matang

3. Pada tahap ini anak sudah dapat menghasilkan kalimat-kalimat seperti orang dewasa.


Proses Perkembangan Bahasa Anak

1. Fonologi

Anak menggunakan bunyi-bunyi yang telah dipelajarinya dengan bunyi-bunyi yang belum dipelajari, misalnya menggantikan bunyi /l/ yang sudah dipelajari dengan bunyi /r/ yang belum dipelajari. Pada akhir periode berceloteh, anak sudah mampu mengendalikan intonasi, modulasi nada, dan kontur bahasa yang dipelajarinya.


2. Morfologi

Pada usia 3 tahun anak sudah membentuk beberapa morfem yang menunjukkan fungsi gramatikal nomina dan verba yang digunakan. Kesalahan gramatika sering terjadi pada tahap ini karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Anak terus memperbaiki bahasanya sampai usia sepuluh tahun.


3. Sintaksis

Alamsyah (2007:21) menyebutkan bahwa anak-anak mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan melalui beberapa tahap, yaitu melalui peniruan, melalui penggolongan morfem, dan melalui penyusunan dengan cara menempatkan kata-kata secara bersama-sama untuk membentuk kalimat.


4. Semantik

Anak menggunakan kata-kata tertentu berdasarkan kesamaan gerak, ukuran, dan bentuk. Misalnya, anak sudah mengetahui makna kata jam. Awalnya anak hanya mengacu pada jam tangan orang tuanya, namun kemudian dia memakai kata tersebut untuk semua jenis jam.


4. Teori-teori tentang Pemerolehan Bahasa Pertama

4.1 Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.

Sebagai contoh, seorang anak mengucapkan bilangkali untuk barangkali. Sudah pasti si anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut. Apabila sutu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidak mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi seperti inilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan dan merupakan hal yang pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.

B.F. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme. Dia menulis buku Verbal Behavior (1957) yang digunakan sebagai rujukan bagi pengikut aliran ini. Menurut aliran ini, belajar merupakan hasil faktor eksternal yang dikenakan kepada suatu organisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu usaha menyenangkan, perilaku itu akan terus dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan. Singkatnya, apabila ada reinforcement yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar.

Namun demikian, banyak kritikan terhadap aliran ini. Chomsky mengatakan bahwa toeri yang berlandaskan conditioning dan reinforcement tidak bisa menjelaskan kalimat-kalimat baru yang diucapkan untuk pertama kali dan inilah yang kita kerjakan tiap hari. Bower dan Hilgard juga menentang aliran ini dengan mengatakan bahwa penelitian mutakhir tidak mendukung aliran ini.

Aliran behaviorisme mengatakan bahwa semua ilmu dapat disederhanakan menjadi hubungan stimulus-response. Hal tersebut tidaklah benar karena tidak semua perilaku berasal dari stimulus-response.


4.2 Teori Nativisme

Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.

Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui “peniruan”. Nativisme juga percaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD). Mengenai bahasa apa yang akan diperoleh anak bergantung pada bahasa yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan di lingkungan Amerika sudah pasti bahasa Inggris menjadi bahasa pertamanya.

Semua anak yang normal dapat belajar bahasa apa saja yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Apabila diasingkan sejak lahir, anak ini tidak memperoleh bahasa. Dengan kata lain, LAD tidak mendapat “makanan” sebagaimana biasanya sehingga alat ini tidak bisa mendapat bahasa pertama sebagaimana lazimnya seperti anak yang dipelihara oleh srigala (Baradja, 1990:33).

Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.


4.3 Teori Kognitivisme

Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah.

Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan simbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.


4.4 Teori Interaksionisme

Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan “input” dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis.

Sebenarnya, menurut hemat penulis, faktor intern dan ekstern dalam pemerolehan bahasa pertama oleh sang anak sangat mempengaruhi. Benar jika ada teori yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa si anak telah ada sejak lahir (telah ada LAD). Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa (Campbel, dkk., 2006: 2-3). Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan juga faktor yang memperngaruhi kemampuan berbahasa si anak. Banyak penemuan yang telah membuktikan hal ini.


5. Kesimpulan

Pemerolehan bahasa pertama adalah proses penguasaan bahasa pertama oleh si anak. Selama penguasaan bahasa pertama ini, terdapat dua proses yang terlibat, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini tentu saja diperoleh oleh anak secara tidak sadar.

Ada beberapa tahap yang dilalui oleh sang anak selama memperoleh bahasa pertama. Tahap yang dimaksud adalah vokalisasi bunyi, tahap satu-kata atau holofrastis, tahap dua-kata, tahap dua-kata, ujaran telegrafis. Selain tahap pemerolehan bahsa seperti yang telah disebutkan ini, ada juga para ahli bahasa, seperti Aitchison mengemukakan beberapa tahap pemerolehan bahasa anak. Tahap-tahap yang dia maksud adalah mendengkur, meraban, pola intonasi, tuturan satu kata, tuturan dua kata, infleksi kata, bentuk tanya dan bentuk ingkar, konstruksi yang jarang atau kompleks, tuturan yang matang. Meskipun terjadi perbedaan dalam hal pembagian tahap-tahap yang dilalui oleh anak saat memperoleh bahasa pertamanya, jika dilihat secara cermat, pembahasan dalam setiap tahap pemerolehan bahasa pertama anak memiliki kesamaan, yaitu adanya proses fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik.

Bagaimana sebenarnya proses pemerolehan bahasa pertama ini? Ada beberapa teori pemerolehan bahasa yang menjelaskan hal ini, yaitu teori behaviorisme, nativisme, kognitivisme, interaksionisme. Keempat teori ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan perihal cara anak memperoleh bahasa pertamanya.






Daftar Pustaka


Alamsyah, Teuku. 1997. Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language Acqusition). Diktat Kuliah Program S-2. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.


Baradja, M.F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang: IKIP


Campbel, dkk. 2006. Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. Depok: Intuisi Press.


Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik:Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.


Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor.


Fromkin Victoria dan Robert Rodman. 1993. An Introduction to Language. Florida: Harcourt Brace Jovanovich Collage.


Mahmud, Saifuddin dan Sa’adiah. 1997. Teori Pembelajaran Bahasa: Materi Kuliah Program Setara D-3. Banda Aceh: FKIP Unsyiah.


Mar’at, Samsunuwiyati. 2005. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: PT Refika Aditama.
Check it out !!!